NDP-Atas dasar banyaknya bencana gempa seorang warga merakit alat sederhana yang digunakan untuk memantau datangnya gempa dan tsumani. Alat sederhana itu terdiri dari alat-alat listrik, sirine, lampu alarm, dan burung merpati di dalam sangkar.
Penggunaan burung dilakukan karena diyakini, binatang itu memiliki naluri alami yang peka terhadap gejolak alam. "Sebelum terjadi gempa, biasanya hewan-hewan akan resah hingga menunjukan perilaku aneh yang tidak seperti biasanya. Dengan asumsi ini, burung di dalam sangkar juga akan resah dan bertebangan sehingga membentur sangkar," kata Dedi kepada NDP
Ujad sang pencipta menjelaskan Dedi Marten warga Sumur Meleleh kelurahan Teluk Segara, Kota Bengkulu . Banyak benturan pembuatan alat itu itu, kata Dedi, menyebabkan terjadinya getaran sehingga sangkar yang dihubungkan dengan kabel dan alat-alat listrik akan membunyikan sirine dan menghidupkan lampu alarm. "Konsepnya seperti bandul, jika sangkar ini bergoyang karena burungnya resak maka sirinenya akan berbunyi," ujarnya.
Dedi menambahkan, alat temuannya ini akan terus dikembangkan guna mencari format yang lebih bagus, serta sensistif terhadap getaran. kamis 12/4 Menurutnya, untuk membuat satu unit alat itu menghabiskan biaya sebesar Rp 1 juta.
Namun, hingga saat ini belum ada pihak yang berminat mengembangkan alat itu. Memang pemerintah Indonesia enggan untuk memberikan inovasi yang terbaik untuk rakyat, alat peringatan dini pun banyak yang tidak terawat, BMKG juga tidak bisa secepat di Negara lain yang terkena dampak gempa kemarin.
0 komentar:
Posting Komentar